Powered By Blogger

Rabu, 10 Desember 2008

Belum Rampung Dibangun, Swadaya Jadi Andalan


JATIBARANG—Momentum Idul Adha sebagai hari raya kurban dimanfaatkan banyak orang dengan berlomba-lomba meraih rahmat dan rido Allah. Begitupun bagi masyarakat Blok Como Desa Pilangsari yang sejak lama sangat mendambakan memiliki sebuah bangunan masjid dengan konstruksi bangunan yang sangat baik. Masjid Jami Nurul Amin dengan kondisi struktur bangunan yang sangat memprihatinkan, pada akhir September 2007 oleh pengurus beserta masyarakat dipugar secara total. Dan sejak saat itu, keinginan masyarakat yang sangat kuat untuk memiliki tempat ibadah yang nyaman atas swadaya murni diperoleh dana masukan awal sebesar Rp 33 juta. “Konstruksi bangunannya memang sudah memprihatinkan, material yang sudah mulai rapuh menjadikan masyarakat sangat khawatir akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan,” papar Ketua DKM Nurul Amin Mohamad Rasta kepada Radar, Senin (8/12) usai shalat Ied. Lebih lanjut dikatakannya, proses pembangunan kembali masjid tersebut kerap sekali menemui kendala pendanaan. “Sehingga dengan keinginan kuat masyarakat dan atas kehendak Allah, maka sejak melaksanakan rempug yang pertama diperoleh kesepakatan untuk membangun dari hasil swadaya masyarakat,” terangnya. Proses pembangnanpun terus berjalan secara berkelanjutan dengan terus meningkatkan amalan infak dan sodakoh, yang hasilnya diperoleh dana masukan sebesar Rp 53 juta dan sudah digunakan dalam lanjutan pembangunan. Namun, dari total biaya yang sudah dikeluarkan sebesar Rp 86 juta tersebut, kondisi bangunan masjid belum sepenuhnya rampung. “Diperkirakan bangunan masjid akan berdiri secara lengkap prosentasenya masih 45 persen lagi,” jelasnya. Sementara itu, niat beribadah umat Islam di sebuah wilayah bagian Desa Pilangsari tersebut dinilai sangat bagus. Hal tersebut terlihat dari jumlah hewan kurban yang diterima panitia sebanyak 12 ekor kambing kurban, padahal jumlah penduduknya tidak lebih dari 1000 jiwa yang semuanya tidak menetap di desa tersebut. “Selain sebagai TKI, warga banyak juga yang numpang usaha di Jakarta dan sekitarnya,” katanya. Namun demikian, walaupun selama ini hanya mengandalkan swadaya murni masyarakat untuk membangun kembali masjid, perhatian dari donatur dari luar desa terus berdatangan untuk turut andil dalam pelaksanaan syiar Islam. “Kami bersukur dan berterima kasih kepada para donatur yang memberikan sebagian rejekinya untuk dibelanjakan dijalan Allah, semoga amal baiknya dapat diterima Allah dan menjadi tauladan bagi umat Islam lainnya. (tar)

sumber : Radar Indramayu

Tidak ada komentar:

Pembunuhan Sadis

Tewas Dibacok Mantan Suami

*) Dua Kali Kawin Cerai, Ditolak Minta Rujuk Kembali

SUKAGUMIWANG—Aksi yang dilakukan Romeo dalam kisah film Romeo dan Juliet memang menyita perhatian penontonnya, sedangkan yang dilakukan pelaku terhadap mantan istrinya kemarin apakah meniru adegan film tersebut?

Mukidi (32) warga blok Boros desa Gunungsari kecamatan Sukagumiwang tega menghabisi nyawa wanita yang pernah dinikahinya sebanyak dua kali. Anisah (30), yang masih satu desa tewas mengenaskan dengan luka bacok di bagian kepala, leher, punggung dan kaki.

Keterangan yang dihimpun Radar di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kejadiannya Sabtu (30/8) sekitar pukul 19.30, berawal saat Anisah sedang duduk di depan warung milik orang tuanya Kasan (50) yang terletak di desa setempat Rt.01/04. Seketika datang Mukidi secara tiba-tiba dan langsung mengayunkan golok yang sengaja dibawanya dari rumah berulang kali ke tubuh Anisah. Korbanpun langsung terkapar tak berdaya menerima hujaman senjata tajam pelaku hingga dilarikan ke RSUD Arjawinangun Cirebon. “Saat kejadian saya lagi ngobrol sama tamu di dalam, tiba-tiba ada suara teriakan orang minta tolong. Setelah saya lihat keluar ternyata anak saya tergeletak dengan banyak darah, dan Mukidi sedang berusaha menusukkan golok ke arah perutnya”, jelas Kasan kepada Radar, kemarin sambil menunjukkan tempat jatuhnya Anisah.

Setelah dilakukan pertolongan medis di RSUD Arjawinangun, ternyata nyawa korban tidak dapat tertolong karena beberapa luka bacok sangat parah dalam jumlah banyak. Dan Mukidi yang berusaha bunuh diri setelah menghabisi nyawa korbannya dapat dihentikan warga, sehingga Mukidi yang nyawanya urung melayang sia-sia juga harus mendapat pertolongan tim medis. Tapi, berbeda dengan korbannya, Mukidi menjalani perawatan tim medis RS Bhayangkara Indramayu dengan tambahan borgol yang mengikat kedua tangannya.

Sumber di TKP mengatakan, Mukidi dan Anisah pernah melakukan pernikahan sebanyak dua kali dan pernikahan yang kedua dilakukan 2006 silam. Dari perkawinan pertamanya sekitar 12 tahun yang lalu, pasangan tersebut telah dikaruniai seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Mukidi yang dikenal warga sekitar sebagai peminum minuman keras dan kerap melakukan perjudian, pada perceraiannya yang kedua berusaha untuk meminta rujuk kembali dengan mantan istrinya.

Namun karena ketidak senangan mantan istri dan keluarganya dengan sikap serta perilaku mabok dan judi pelaku, usahanya untuk dapat rujuk kembali tetap tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Sehingga pelaku nekad untuk melakukan aksi pembunuhan dan mencoba bunuh diri. Hal tersebut dilihat dari tulisan tangan pada selembar kertas yang bercambur noda darah, yang isinya menyebutkan “Mukidi – Anisah pegat paksa sampe dua kali, daripada pisah karo Anisah bagen mati suka mati loroane” yang artinya Mukidi – Anisah cerai paksa sampai dua kali, dari pada pisah dengan Anisah lebih baik mati harus mati dua-duanya.

Pada saat melakukan aksinya, pelaku menggunakan sebilah golok yang sengaja di bawanya dari rumah dan kedapatan membawa dua buku surat nikah atas nama Mukidi dan Anisah.

Setelah menjalani perawatan di RS Bhayangkara, pelaku digiring ke Mapolsek Kertasemaya guna dilakukan pemeriksaan dan korban tewas sekitar pukul 09.00 Minggu (31/8) pagi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. (tar)

Sumber : Radar Indramayu