*) Diantarkan Pulang Tanpa Dibekali Dokumen, Pengantar Jenazah Nyaris di Massa
SUKAGUMIWANG—Kisah pilu mengenaskan terus mendera para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia. Ada yang disiksa hingga gaji tak dibayarkan, bahkan sampai meninggal dengan penyebab yang tidak pasti.
Senin (22/6) sekitar pukul 00.22, peti jenazah Yeni Rahman (28) yang diterbangkan menggunakan fasilitas cargo Qatar Airways tiba di rumah duka di Desa Bondan RT 12/06 Kecamatan Sukagumiwang dengan menggunakan ambulan jenis Daihatsu Zebra nopol B 7649 JK, disambut tangis histeris sanak keluarga.
Menurut keterangan, korban diterbangkan untuk bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di negara Kuwait oleh PJTKI PT Wira Kreasi Usaha yang beralamat di jalan raya Jatimakmur 100 Pondok Gede pada 4 April lalu.
Konon, baru dua minggu bekerja korban dikembalikan ke agen di negara setempat oleh majikannya. Dan di agen itulah dirinya berjuang melawan maut, seperti kabar yang diterima keluarga dari salah satu TKW yang saat itu akan pulang ke tanah air dan menjumpai korban dalam kondisi mengenaskan di tempat agen. Bahkan, TKW yang akan pulang itu sempat diancam untuk tidak mengabarkannya kepada pihak keluarga.
Kalau alasannya sakit parah sangatlah tidak masuk di akal, karena pada saat akan diterbangkan kondisi kesehatan calon TKW terlebih dulu menjalani pemeriksaan intensif medical check up sesuai ketentuan.
Sementara itu, pada saat keluarga berduka di rumah bernomor 09 itu, si pengantar jenazah mengelak dan tidak mengaku sebagai orang PJTKI ketika wartawan hendak meminta keterangan dari perwakilan PJTKI. “Saya dari ambulan, bukan dari PT,” cetus pria yang mengaku bernama Yahya.
Desakan pertanyaan wartawan yang menanyakan penyebab kematian, hasil visum, nama dan alamat majikan serta surat pengantar pengiriman jenazah pun tidak dapat dijawab dan ditunjukkan. Bahkan saat itu, dirinya bersama sopir ambulan tidak ada itikad baik terhadap suasana duka dan pertanggungan jawaban PJTKI yang diwakilinya malah berkemas akan pergi begitu saja tanpa berpamitan. Serah terima jenazah dengan keluarga dan pemerintahan desa juga tidak dilakukan sama sekali. “Saya orang lapangan, saya ga pernah ke Kuwait mas,” celetuknya.
Dalam suasana berkabung itu langsung berubah menjadi suasana geram warga kepada si pengantar jenazah yang tidak menghargai keluarga korban dan dianggap seperti orang membuang bangkai binatang. “Jangan dibiarkan pulang, bila perlu ditahan sambil nunggu ada dokumen yang diantarkan,” teriak warga.
Kekesalan warga kian memuncak yang sesekali hampir terjadi tindakan anarki yang mengarah pada tindakan kekerasan kepada yang bersangkutan karena menyepelekan orang yang sudah meninggal.
Sementara itu, warga yang terus mendesak pertanggung jawaban PJTKI itu, menyaksikan salah seorang yang menghubungi Jafar (Direktur PJTKI PT Wira Kreasi Usaha) untuk menanyakan dokumen-dokumen korban. “Hasil visumnya diambil saja ke Jakarta,” dituturkan si penelepon.
Selang beberapa jam, Khaerudin (35), suami korban yang masih shock mulai merespons beberapa pertanyaan. Dikatakannya, dia memperoleh kabar bahwa istrinya sedang sakit dari temannya yang saat itu berada di agen Kuwait melalui SMS, dan kabar kedua yang juga via SMS menanyakan pihak keluarga sudah tahu belum kalau Yeni sudah meninggal.
Mirisnya, setelah Yeni dikabarkan sudah meninggal dua minggu yang lalu oleh temannya, justru pihak PJTKI tidak mengetahuinya. Pihak keluarga yang kecewa terhadap sikap PJTKI yang disusul kemudian dengan pengiriman jenazah yang tidak menggunakan etika, menuntut diurus segala administrasi dan hak-haknya. “PT baru tahu setelah saya menanyakan kebenaran kabar yang saya terima,” jelasnya sambil menitikkan air mata.
Isi peti mati pun turut menjadi pertanyaan, karena pengirimannya tidak disertai dokumen dikhawatirkan isinya bukan jenazah Yeni. “Petinya akan dibuka setelah ada dokumen dan disaksikan orang PT,” tandas salah satu keluarga korban. (tar)
sumber : Radar Indramayu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar