Selasa, 16 September 2008

Gelar Istighotsah Terinspirasi Jumlah Pengangguran

*) Harapkan Miras Sirna Dari Bumi Indramayu

WIDASARI—Sekelompok pemuda Islam di Desa Ujungjaya Widasari pada tiga tahun silam yang merasa teraniaya dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tampaknya disikapi dengan berupaya semakin mendekatkan diri pada Allah swt bukan melakukan aksi frustasi yang mendatangkan dosa.

Maka atas inisiatif bersama tercapai kata sepakat untuk tetap berkiblat pada ajaran Islam yang sesungguhnya dengan tidak melakukan perbuatan nahi munkar yang didasari keniatan dari dalam hati setiap individu dengan ikhlas. Jam’iyah Hasbunallah Wani’mal Wakil akhirnya dibentuk dan dijadikan wadah pemuda Islam desa setempat untuk tetap mensyi’arkan Islam. Wadah tersebut dengan kegiatan rutinnya yakni melaksanakan Istighotsah rutin yang pesertanya didominasi kaum muda yang sudah mempunyai lapangan kerja maupun remaja berstatus pelajar. “Awalnya jam’iyah berdiri dilatar belakangi banyaknya jumlah pengangguran yang selalu tidak berhasil dalam mencari pekerjaan, namun berkat Istighotsah rutin yang kami lakukan sejak tiga tahun silam kami mengucap syukur alhamdulillah,” terang Ketua Jam’iyah Hasbunallah Wani’mal Wakil Desa Ujungaris Makhrus SAg saat berbincang dengan Radar, Selasa (16/9) sore setelah acara di Mushola An-Nawawi desa setempat.

Masih menurutnya, Istighotsah yang dilaksanakan secara rutin setiap minggunya, dalam bulan Ramadan juga secara rutin dilaksanakan setiap hari menjelang waktu berbuka yang dimulai sekitar pukul 16.30. “Istighotsah yang kami laksanakan sebagai kegiatan rutin pada intinya untuk membentuk akhlaqul karimah yang dilatar belakangi keikhlasan, keridhoan dan mahabbah pada Allah swt,” tuturnya.

Dengan harapan mendapatkan berkah dari ibadah yang dilaksanakannya, puluhan pemuda sebagai ujung tombak Islam tersebut bertekad akan terus meningkatkan syiar Islam dan melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang akan menghancurkan dan memecah belah umat Islam. “Dengan kejadian korban miras dalam jumlah yang sangat banyak, kami turut berduka dan prihatin atas nasib yang harus menimpa korban yang notabene asli pemuda Indramayu dan beragama Islam. Dari peristiwa tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam telah dijajah melalui minuman haram, dan kami berharap barang haram tersebut sirna dari bumi Indramayu”, tandasnya. (tar)

sumber : Radar Indramayu

Tidak ada komentar:

Pembunuhan Sadis

Tewas Dibacok Mantan Suami

*) Dua Kali Kawin Cerai, Ditolak Minta Rujuk Kembali

SUKAGUMIWANG—Aksi yang dilakukan Romeo dalam kisah film Romeo dan Juliet memang menyita perhatian penontonnya, sedangkan yang dilakukan pelaku terhadap mantan istrinya kemarin apakah meniru adegan film tersebut?

Mukidi (32) warga blok Boros desa Gunungsari kecamatan Sukagumiwang tega menghabisi nyawa wanita yang pernah dinikahinya sebanyak dua kali. Anisah (30), yang masih satu desa tewas mengenaskan dengan luka bacok di bagian kepala, leher, punggung dan kaki.

Keterangan yang dihimpun Radar di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kejadiannya Sabtu (30/8) sekitar pukul 19.30, berawal saat Anisah sedang duduk di depan warung milik orang tuanya Kasan (50) yang terletak di desa setempat Rt.01/04. Seketika datang Mukidi secara tiba-tiba dan langsung mengayunkan golok yang sengaja dibawanya dari rumah berulang kali ke tubuh Anisah. Korbanpun langsung terkapar tak berdaya menerima hujaman senjata tajam pelaku hingga dilarikan ke RSUD Arjawinangun Cirebon. “Saat kejadian saya lagi ngobrol sama tamu di dalam, tiba-tiba ada suara teriakan orang minta tolong. Setelah saya lihat keluar ternyata anak saya tergeletak dengan banyak darah, dan Mukidi sedang berusaha menusukkan golok ke arah perutnya”, jelas Kasan kepada Radar, kemarin sambil menunjukkan tempat jatuhnya Anisah.

Setelah dilakukan pertolongan medis di RSUD Arjawinangun, ternyata nyawa korban tidak dapat tertolong karena beberapa luka bacok sangat parah dalam jumlah banyak. Dan Mukidi yang berusaha bunuh diri setelah menghabisi nyawa korbannya dapat dihentikan warga, sehingga Mukidi yang nyawanya urung melayang sia-sia juga harus mendapat pertolongan tim medis. Tapi, berbeda dengan korbannya, Mukidi menjalani perawatan tim medis RS Bhayangkara Indramayu dengan tambahan borgol yang mengikat kedua tangannya.

Sumber di TKP mengatakan, Mukidi dan Anisah pernah melakukan pernikahan sebanyak dua kali dan pernikahan yang kedua dilakukan 2006 silam. Dari perkawinan pertamanya sekitar 12 tahun yang lalu, pasangan tersebut telah dikaruniai seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Mukidi yang dikenal warga sekitar sebagai peminum minuman keras dan kerap melakukan perjudian, pada perceraiannya yang kedua berusaha untuk meminta rujuk kembali dengan mantan istrinya.

Namun karena ketidak senangan mantan istri dan keluarganya dengan sikap serta perilaku mabok dan judi pelaku, usahanya untuk dapat rujuk kembali tetap tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Sehingga pelaku nekad untuk melakukan aksi pembunuhan dan mencoba bunuh diri. Hal tersebut dilihat dari tulisan tangan pada selembar kertas yang bercambur noda darah, yang isinya menyebutkan “Mukidi – Anisah pegat paksa sampe dua kali, daripada pisah karo Anisah bagen mati suka mati loroane” yang artinya Mukidi – Anisah cerai paksa sampai dua kali, dari pada pisah dengan Anisah lebih baik mati harus mati dua-duanya.

Pada saat melakukan aksinya, pelaku menggunakan sebilah golok yang sengaja di bawanya dari rumah dan kedapatan membawa dua buku surat nikah atas nama Mukidi dan Anisah.

Setelah menjalani perawatan di RS Bhayangkara, pelaku digiring ke Mapolsek Kertasemaya guna dilakukan pemeriksaan dan korban tewas sekitar pukul 09.00 Minggu (31/8) pagi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. (tar)

Sumber : Radar Indramayu