Rabu, 03 Desember 2008

Bocah Bisu Ditemukan Pengamen Pantura


WIDASARI—Seorang bocah laki-laki yang diperkirakan berumur 6 tahun dengan kondisi sangat memprihatinkan ditemukan seorang pengamen bus antar provinsi di jalur pantura Indramayu.

Berawal dari lahannya mencari rejeki diatas kendaraan umum, Nana Mulyana (24) warga Desa Tegalgirang Kecamatan Bangodua diikuti seorang anak kecil saat hendak mengais rejeki dengan mengamen di sebuah bus yang datang dari arah Jakarta menuju Cirebon Sabtu (18/10) sekitar pukul 20.00. Dari sebuah pangkalan di Kecamatan Kandanghaur, Nana saat menaiki sebuah bus tidak menyadari kalau dirinya diikuti anak kecil yang pada saat di pangkalan dilihatnya asyik bermain sendirian.

Namun, Nana yang sudah terbiasa bercuap-cuap dan mendendangkan lagu di jalanan tetap tidak menaruh curiga pada anak tersebut, dan tanpa terganggu sedikitpun selama dalam perjalanan dari Kandanghaur hingga Widasari. Hingga akhirnya si bocah malang tersebut oleh pengamen dibawa pulang ke rumahnya, karena sangat kesulitan untuk dimintai keterangan maka pengamen yang semula berinisiatif akan mengembalikan kepada keluarganya memutuskan untuk menyerahkannya kepada kepolisian setempat. “Ketika pengamen tersebut turun di simpang tiga Desa Bangkaloa, ternyata anak itu ikut turun dan terus mengikuti langkah pengamen,” kata Nana dituturkan Kapolsek Widasari AKP Bendi Ujianto kepada Radar, Senin (20/10) di ruangannya.

Polisipun berupaya untuk bisa mempertemukan bocah malang kepada pihak keluarganya melalui Polsek Kandanghaur, namun upaya tersebut tetap gagal karena pada saat berada di Polsek Kandanghaur si bicah tidak ada yang mengakui sebagai keluarganya. Dan bocah yang sulit berbicara (tuna wicara) itu dikirim lagi ke Mapolsek Widasari, dan hingga kemarin si bocah hiper aktif itu menjadi penghuni Mapolsek setempat. “Pada saat pertama kali di bawa ke sini menggunakan pakaian berupa kaos biru bertuliskan nevada tanpa lengan dan celana kolor biru bermotif bunga putih,” jelas Bendi.

Pada saat wartawan memberikan pertanyaanpun tidak ditanggapi dan hanya berteriak seperti layaknya anak kecil yang sedang melantunkan sebuah lagu. Bocah yang tidak mau diam dan serba penasaran dengan sesuatu yang dilihatnya, memiliki ciri-ciri rambut lurus, kulit putih dan alat kelaminnya belum disunat. “Anak tersebut sangat sulit diajak berkomunikasi karena memiliki kelainan dalam berbicara, sehingga kami sangat kesulitan untuk dapat mengetahui asal dan namanya. Dan ciri lainnya yakni memiliki kelainan pada saat diberikan selembar kertas dan balpoin, ternyata anak itu menggunakannya dengan tangan kiri (kidal),” ungkapnya. (tar)

sumber : Radar Indramayu

Tidak ada komentar:

Pembunuhan Sadis

Tewas Dibacok Mantan Suami

*) Dua Kali Kawin Cerai, Ditolak Minta Rujuk Kembali

SUKAGUMIWANG—Aksi yang dilakukan Romeo dalam kisah film Romeo dan Juliet memang menyita perhatian penontonnya, sedangkan yang dilakukan pelaku terhadap mantan istrinya kemarin apakah meniru adegan film tersebut?

Mukidi (32) warga blok Boros desa Gunungsari kecamatan Sukagumiwang tega menghabisi nyawa wanita yang pernah dinikahinya sebanyak dua kali. Anisah (30), yang masih satu desa tewas mengenaskan dengan luka bacok di bagian kepala, leher, punggung dan kaki.

Keterangan yang dihimpun Radar di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kejadiannya Sabtu (30/8) sekitar pukul 19.30, berawal saat Anisah sedang duduk di depan warung milik orang tuanya Kasan (50) yang terletak di desa setempat Rt.01/04. Seketika datang Mukidi secara tiba-tiba dan langsung mengayunkan golok yang sengaja dibawanya dari rumah berulang kali ke tubuh Anisah. Korbanpun langsung terkapar tak berdaya menerima hujaman senjata tajam pelaku hingga dilarikan ke RSUD Arjawinangun Cirebon. “Saat kejadian saya lagi ngobrol sama tamu di dalam, tiba-tiba ada suara teriakan orang minta tolong. Setelah saya lihat keluar ternyata anak saya tergeletak dengan banyak darah, dan Mukidi sedang berusaha menusukkan golok ke arah perutnya”, jelas Kasan kepada Radar, kemarin sambil menunjukkan tempat jatuhnya Anisah.

Setelah dilakukan pertolongan medis di RSUD Arjawinangun, ternyata nyawa korban tidak dapat tertolong karena beberapa luka bacok sangat parah dalam jumlah banyak. Dan Mukidi yang berusaha bunuh diri setelah menghabisi nyawa korbannya dapat dihentikan warga, sehingga Mukidi yang nyawanya urung melayang sia-sia juga harus mendapat pertolongan tim medis. Tapi, berbeda dengan korbannya, Mukidi menjalani perawatan tim medis RS Bhayangkara Indramayu dengan tambahan borgol yang mengikat kedua tangannya.

Sumber di TKP mengatakan, Mukidi dan Anisah pernah melakukan pernikahan sebanyak dua kali dan pernikahan yang kedua dilakukan 2006 silam. Dari perkawinan pertamanya sekitar 12 tahun yang lalu, pasangan tersebut telah dikaruniai seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Mukidi yang dikenal warga sekitar sebagai peminum minuman keras dan kerap melakukan perjudian, pada perceraiannya yang kedua berusaha untuk meminta rujuk kembali dengan mantan istrinya.

Namun karena ketidak senangan mantan istri dan keluarganya dengan sikap serta perilaku mabok dan judi pelaku, usahanya untuk dapat rujuk kembali tetap tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Sehingga pelaku nekad untuk melakukan aksi pembunuhan dan mencoba bunuh diri. Hal tersebut dilihat dari tulisan tangan pada selembar kertas yang bercambur noda darah, yang isinya menyebutkan “Mukidi – Anisah pegat paksa sampe dua kali, daripada pisah karo Anisah bagen mati suka mati loroane” yang artinya Mukidi – Anisah cerai paksa sampai dua kali, dari pada pisah dengan Anisah lebih baik mati harus mati dua-duanya.

Pada saat melakukan aksinya, pelaku menggunakan sebilah golok yang sengaja di bawanya dari rumah dan kedapatan membawa dua buku surat nikah atas nama Mukidi dan Anisah.

Setelah menjalani perawatan di RS Bhayangkara, pelaku digiring ke Mapolsek Kertasemaya guna dilakukan pemeriksaan dan korban tewas sekitar pukul 09.00 Minggu (31/8) pagi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. (tar)

Sumber : Radar Indramayu