*)Warga Mengungsi di Stasiun KA
TERISI - Empat desa di wilayah Kecamatan Terisi, diterjang banjir bandang dari luapan Sungai Cipanas, Kamis (18/12). Akibatnya, sekitar 703 rumah warga terendam air hingga ketinggian 0,5 sampai 2 meter.
Keempat desa tersebut diantaranya Jatimulya (121 rumah), Rajasinga (291), Karangasem (290 rumah) dan Jatimunggul (1 rumah). Selain kediaman penduduk, sekitar 196 hektare tanaman padi berusia 3 minggu yang berada di tepi sungai Cipanas ikut terendam air bercampur lumpur.
Banjir bandang kali ini dinilai paling parah sejak lima tahun terakhir atau terjadi pada tahun 2003 lalu. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Hanya saja, seorang warga Desa Karangasem Blok Karanganyar, bernama Puji (17), nyaris meregang nyawa setelah kaki kanannya digigit ular berbisa sewaktu ikut mengevakuasi barang-barang dari kediamannya ke tempat pengungsian.
Beruntung nyawa bocah perempuan yang duduk dibangku kelas XII disebuah SLTA itu, berhasil diselamatkan setelah dilarikan ke RS Bhayangkara Losarang.
Sementara itu, berdasarkan keterangan warga, banjir bandang berlangsung mulai pukul 08.00 pagi. Semula, limpasan air hanya menggenangi daerah tepian sungai Cipanas yang memiliki lebar 50 meter.
Namun, ketika menjelang siang hari, luapan air terus meluber hingga menenggelamkan ruas jalan raya yang jauhnya ratusan meter dari tepi sungai. “Air naik sangat cepat. Warga semuanya panik, lalu ramai-ramai mengangkat barang berharga ketempat yang lebih tinggi,” ujar Suatara (44) warga Desa Jatimulya.
Rumah Suatara terendam air 1,5 meter. Ia terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya yang lebih aman.
Sama halnya yang dilakukan warga lainnya. Mereka mengamankan barang berharga ketempat yang lebih tinggi seperti pinggir jalan maupun di sepanjang rel kereta api.
Bahkan, Jembatan Cilogog yang berada diketinggian 20 meter dari dasar sungai, ikut terendam. Karena air permukaan sangat deras, jembatan yang berada di perbatasan antara Desa Rajaiyang dan Desa Pegagan Kecamatan Losarang itu terpaksa ditutup serta ditambak dengan ratusan karung berisi pasir.
Selain mencegah agar tidak ada kendaraan yang melintas, juga untuk membendung luapan air dari atas jembatan supaya tidak meluber kerumah-rumah warga yang berada disekitar jembatan.
“Losarang masih aman. Tanggulnya masih kuat menahan limpasan air sungai. Namun kita tetap berjaga-jaga dan akan langsung evekuasi warga jika ada tanggul yang jebol,” kata Camat Losarang Drs Prawoto kepada Radar saat memimpin penambakan bibir jembatan bersama puluhan warga serta pihak Muspika.
Luapan air itu diakibatkan debit air yang mengalir di Sungai Cipanas sangat tinggi, karena curah hujan yang tinggi di daerah hulu.
Sekretaris Daerah Pemkab Indramayu Dra Hj Srie Indrawawati MM didampingi Kepala Dinas PU Pengairan Ir Kusnomo Tamkani menjelaskan, penyebab banjir bukan karena adanya tanggul sungai yang jebol.
Akan tetapi lebih disebabkan alur air dari bendung Sumur Watu di Desa Jatimunggul Kecamatan Terisi dan Bendung Cibelerang di Desa Loyang Kecamatan Cikedung mengalami kenaikan diatas mercu. Sejak pukul 5 pagi, ketinggian debit air di kedua Bendung itu melebihi kapasitas dan tidak bisa menahan kiriman air dari Kabupaten Sumedang.
“Lalu dari dua bendung itu, airnya masuk sama-sama ke sungai Cipanas. Karena melimpah, air melewati ketinggian tanggul dan kemudian meluber lalu terjadi banjir,” jelas Srie.
Ketinggian air di Sungai Cipanas, tambah Kusnomo sangat bergantung curah hujan di daerah hulu, yaitu di Kabupaten Sumedang. Semakin tinggi curah hujannya, debit air yang mengalir akan semakin besar.
Camat Terisi Drs Welly Kuswaluyo mengatakan, tidak semua rumah di empat desa itu tergenang. Hanya rumah-rumah yang jaraknya dekat dengan bantaran sungai dan letaknya lebih rendah yang kebanjiran.
Dari keempat desa itu, yang kondisinya paling parah adalah di Desa Karangasem karena daerahnya persis dipinggir sungai Cipanas dan dibawah rel kereta api.
Bahkan, ratusan warga yang berada di Blok Karanganyar dan Ludoyong terpaksa mengungsi di stasiun KA Terisi yang lokasinya berdekatan.
Di lokasi ini para pengungsi yang sebagian besar orang tua dan anak anak harus tidur tanpa fasilitas yang memadai. Meski demikian, Pihak terkait telah menyediakan dapur umum guna menunjang kebutuhan pangan dan obat-obatan bagi warga selama dipengungsian.
“Bantuan pangan dan medis dari Pemkab sudah kita salurkan. Termasuk mendirikan posko-posko darurat untuk menampung korban banjir serta menyediakan makanan siap saji,” kata Welly. (kho)
sumber : Radar Indramayu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar